Showing posts with label Poems Collections.. Show all posts
Showing posts with label Poems Collections.. Show all posts

Siluet Rindu

Unknown | Tuesday, December 11, 2012 | 0 comments
Siluet rinduku. 
Masih mengelilingi rasa cintaku. 
Yang menguak luka piluku. 

Sesaat rasa kembali menusuk-nusuk kepedihanku. 
Mencoba lupakanmu. 
Tapi tak semudah itu ku lupakanmu. 
Walaupun kau telah berlalu jauh dariku. 

Rasa cinta itu masih ku rasa jelas dalam relung hatiku. 
Mungkin pandanganku tak lagi indah seperti saat bersamamu. 
Tapi mata hatiku masih melihat jelas keindahan cintamu. 
Yang kini hanya sesaat dalam lamunan malamku. 

Goresan rindu menjadi pilu. 
Mungkin kau takkan mengertikanku.

Yang Terindah

Unknown | Sunday, February 12, 2012 | 0 comments
Kerut di wajahmu.
Telah menggoreskan sejuta kenangan.
Pada seberkas kanfas putih hidupku.
Yang tak seindah pelangi di matamu.


Tentang masa itu.
Sejak ulat tumbuh menjadi kepompong.
Saat ilalang masih menghijau.
Sesudah pagi berganti dengan malam.

Di sini.
Diantara dimensi waktu yang dinanti.
Ku ingat senyummu.
Juga tawamu.
Yang telah dewasakan aku.


Tak ingin lagi kulihat tangismu.
Di kala senja.
Tak ingin lagi kulihat lelahmu.
Di kala petang.

Bayangmu selalu hadir dalam lelapku.
Manis bibirmu, lembut belaimu.
Saat kau dekap erat tubuh mungilku.
Dalam peluk hangatmu.


Walau ilalang mulai kering.
Dan kepompong telah menjelma jadi kupu.
Pesonamu tiada akhir.
Terpatri bersama kenangan-kenangan itu.

Karena engkaulah wanita terindah.
Dalam hidupku.
Dulu, sekarang, dan esok.
Dan untuk selamanya.

Pesan Terakhir

Unknown | Friday, December 09, 2011 | 0 comments
Di bening matamu kemarin.
Kutemukan sebutir air mata yang kau tahan.
Mengeras jadi mutiara, jatuh ke bibirmu.
Tinggal disana sebentar.
Menggetar, kemudian menyusup ke tenggorokan.


Mungkin saja.
Ia yang sekarang menjelma serak dan sesak.
Pada barisan kata perpisahan.

Sudahlah sayang, jangan sendu.
Aku ingin pergiku kali ini terdengar merdu.
Agar angin malam, atau hujan.
Atau bahkan udara dingin dan kebekuan.
Bisa mengingatkanmu suatu waktu.
Tentang kisahku dalam rindu-rindu yang haru.
Tapi tidak biru.



Aku akan tetap menjadi keindahan jingga di pagi dan senja.
Lagu-lagu yang menyapa kelopak matamu sebelum terik.
Dan mengendap-endap sesaat di lelahmu sebelum mimpi.

Suatu Saat Nanti

Unknown | Sunday, November 20, 2011 | 0 comments
Sekarang.
Kamu bisa menolak.
Kamu bisa membenci.
Kamu bisa mempermainkan.
Kamu bisa menuduh.
Kamu bisa mencaci maki.
Kamu bisa angkuh.
Kamu bisa menyiksa.
Kamu bisa menghancurkan hatiku. 

Tapi tidak untuk suatu saat nanti. 
Ketika semua telah mati. 
Ketika semua dihidupkan kembali. 

Suatu saat nanti.
Aku akan mencarimu.
Aku akan menemukanmu.
Aku akan mendekatimu.
Hingga aku tepat didepanmu. 

Suatu saat nanti. 
Kulihat matamu. 
Sayu, tidak sebinar dulu. 
Ku lihat mulutmu. 
Rapat, tak sebesar dulu. 
Ku lihat lidahmu. 
Kelu, tak setajam dulu. 
Ku dengar suaramu. 
Lirih, tak selantang dulu. 

Suatu saat nanti.
Matamu akan melihat terang.
Mulutmu akan berkata apa adanya.
Hatimu tak akan berdusta.
Tanganmu tak bisa membantu.
Kakimu tak bisa berlari.
Wajahmu tak bisa berpaling. 

Suatu saat nanti. 
Aku akan bertanya padamu. 
“Apa yang telah kamu lakukan dulu...?”. 
“Ada apa di hatimu...?”. 
“Sedangkan kamu sadar, sedangkan kamu tahu, kamu melukaiku”. 

Suatu saat nanti.
Kamu akan berlutut seraya berkata.
“Aku telah berpura-pura...!”.
“Aku telah bersandiwara...!”.
“Aku telah berdusta...!”.
“Maafkan aku...!”.
“Sebenarnya aku rapuh, saat membutuhkanmu...!”.
“Sejujurnya aku menangis bila rindu...!”.
“Aku sungguh menyayangimu...!”.
“Aku benar benar mencintaimu...!”. 
Suatu saat nanti. 
Aku kan raih tanganmu. 
Aku kan dekap erat tubuhmu. 
Saat air matamu berlinang perlahan. 
Berderai, luruh berjatuhan. 
Menimpa dan menyatu. 
Dengan air mataku dulu. 

Perjalanan Separuh Kerinduan

Unknown | Sunday, October 09, 2011 | 0 comments
Haruskah geliat rindu yang kau simpan pada getar dawai hati.
Bening kilau embun dan segaris cahaya pagi.
Membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik.
Yang kau namakan tepian sebuah perjalanan panjang.

Kegetiran ini, katamu, melelahkan.
Dan membuatmu kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit.
Yang telah beku dicekam rindu lalu luruh satu-satu.
Serupa hujan membasahi belantara tak berujung.

Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan.
Adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim.
Kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita.
Untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu.

Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala.
Lantas menikmatinya, seraya berucap lirih.

“Jejak itu akan ada disana".
"Dalam keindahan dan kepahitan".
"Dalam kehilangan dan keberadaan".
"Dalam rindu yang menjelma menjadi remah-remah yang jatuh sepanjang perjalanan”.

Puisiku Untukmu

Unknown | Friday, September 30, 2011 | 0 comments
Bersandarlah kau di bahuku
Agar dapat kurasa jua beban hidupmu



Bagilah senyum ceria dan bahagiamu
Agar dapat jua kurasa bahagia itu


Izinkanku jadikanmu permaisuri hatiku
Yang kan menyemai bunga² cinta di sepanjang waktu


Izinkanku tuk membimbing langkahmu
Agar ridho dan berkah Ilahi bersama menyertaimu


Izinkanku tuk mengusap air mata di pipimu
Ketika sedih datang menyambangimu
Agar tak lama sedih bergelayut pada dirimu


Izinkanku membersamaimu
Dalam suka dan duka
Meniti hari kita bersama
Karena rindu ini hajatkan hadirmu disisi

Mantan Kekasihku

Unknown | Wednesday, August 31, 2011 | 0 comments
Mantan kekasihku.
Bagaimana kabarmu saat ini.
Apakah kau baik² saja ditempat asalmu.
Atau mungkin kau lg bersedih saat ini.



Mantan kekasihku.
Tahu kah kau saat ini aku sedang merintih.
Gelisah, menggeliat diatas tempat tidurku.
Menahan sakit yang teramat dalam.
Bukan, bukan karena aku teringat padamu.
Tapi karena asam lambung yang sedang menyerangku.


Mantan kekasihku.
Susah sekali bagiku untuk mengatakan padamu..
Bahwa sebenarnya aku selalu memikirkanmu.
Sosok anggun bak bidadari.
Humoris, nakal tapi juga cerewet.
Aku suka itu.


Mantan kekasihku.
Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku.
Tetaplah setia menjadi mantan kekasihku.
Karena aku tahu kau tidak dapat hidup tanpa diriku.
Tidak usah malu mengungkap kan hal itu.
Karena kau adalah mantan kekasihku.

Salam Rindu Untukmu

Unknown | Saturday, August 06, 2011 | 0 comments
Dinginya malam menusuk ke dalam sukma.
Menembus raga.
Merasuk setiap tulang dan jiwa.
Rerumputan menjadi tempat bersandar.
Dan gumpalan awan menjadi selimut malam.
Andaikan bulan dan bintang menampakkan sinarnya.
Tetu malam kan semakin menawan.
Aku titipkan salam lewat hembusan angin malam.
Untuk sampaikan salam penuh kerinduan.
Dari hati yang paling dalam.
Untukmu yang tersayang.

Maaf Atas Kesalahanku

Unknown | Sunday, June 19, 2011 | 0 comments
Lelah menghitung segala kesalahanku.
Mungkin bagimu ini adalah saat yang menjenuhkan.
Satu persatu ku coba jabarkan kesalah itu.
Mungkin ada diantaranya yang telah mengukir luka.

Ada banyak jalan yang telah ku tempuh.
Ada beribu kata yang ingin ku sampaikan.
Walaupun terlalu banyak kesalahan yang ada.
Telah ku rangkai sederet syair indah.
Berharap menemukan maaf darimu.

Lelah ku coba satukan puing-puing perasaan kita.
Walaupun aku sadar takkan ada hasilnya.
Mungkin tangiskupun takkan merubah perasaanmu.
Walau hanya sedikit.

Aku masih mengharapkan maaf itu.
Sungguh perasaan yang sulit.
Kenangan kita terhapus oleh kesalahan ini.
Begitu beratkah kesalahku.

Kebahagiaan yang kita rangkai.
Perlahan rusak menjadi puing kenangan.
Mungkin ada lebih banyak lagi.
Walaupun kata itu hanya tersimpan dihati.

Tapi tak terucap dibibir.
Hanya saja jika kau masih menyisakan kata itu untuk ku.
Maka kata yang kuharapkan.
Adalah maaf darimu.

Masih Tentangmu

Unknown | Monday, May 30, 2011 | 0 comments
Aku pernah membayangkanmu hadir dalam hidupku yang sepi.
Kau maya, tak berwujud untuk memeluk hatiku yang dingin.
Selalu berharap kau akan jadi nyata.
Untuk menjadi kekasihku.

Aku memimpikanmu.
Sebelum kau datang padaku.

Menawarkan damai bersamamu.

Yang utuh di setiap malamku.


Dan di suatu hari aku menemukanmu.
Di antara waktumu yang tak pernah sepi.
Kau memberi petunjuk padaku untuk mendapatkanmu.

Aku menunggumu.
Tanpa ku harus tahu siapa kau.

Kemudian aku mengingatmu.

Selalu di setiap hembusan nafasku.


Sementara aku tak pernah mengerti.
Kenapa harus kau.

Aku menunggumu.
Menghampiri aku di sini dengan ceriamu yang lugu.

Hangat tawamu, dan bening sinar matamu.

Serta senyum malaikatmu.

Sampai masa itu sendiri yang akan menjemputku padamu.


Dan aku mendapatkanmu.
Saat kau tawarkan nyamannya memeluk hidup bersamamu.

Kau, yang menjadi kekuatanku.
Ketika aku lelah melangkah.

Lalu aku bersamamu.


Dan aku merasa itu akan selalu begitu.
Sepanjang waktu yang tersisa sampai matahari terhenti.
Menjadikanku merindukanmu.
Saat-saat kau jauh dari sisiku.
Cemas, jika ternyata kau tak kembali untukku.
Sangat takut kehilanganmu.

Aku menyayangimu.
Apa adanya, dengan segala yang ada padamu.

Setulus hatiku.

Aku mencintaimu.


Tapi waktu telah habis, sebelum semua janji terpenuhi.
Hidupku harus kembali sepi dengan hatiku yang kedinginan lagi.
Kehilangan kekuatan dan tempatku berteduh.
Kembali ke masa saat kau masih jadi bayangan.

Aku kehilanganmu selamanya.
Harum nafasmu dan wangi tubuhmu jadi mimpi.

Dan tanpa senyum malaikat itu lagi.


Kebingungan

Unknown | Saturday, May 07, 2011 | 0 comments
Sebuah rencana sudah aku susun.
Kupelajari dan kumainkan sekenario.
Lirik, sajak, puisi terangkai sudah.
Tertuang dalam goresan pena.
Terucap dalam untaian kata.
Tersirat dalam ketulusan hati.
Hanya berharap sebuah arti pengampunan.
Masihkah ada yang kurang.
Cara lama sudah kujalankan.
Sapa dan ayunan tangan coba aku tawarkan.

Ribuan maaaf telah ku ucapkan.

Penuh ketulusan dan penyesalan.

Tapi kau semakin menjauh dariku.

Jangankan memberi waktu untuk penjelasan.

Manatap wajahku saja engkau enggan.

Sebesar itukah kau membenciku.

Tak adakah celah dan ruang lagi untukku.


Harus dengan cara apa lagi aku lakukan.
Kata apa yang bisa aku sampaikan.
Hanya untuk mendapatan perhatianmu.
Seakan harga yang tak mungkin bisa aku bayar.
Seperti jalan yang tak dapat aku lewati.
Bagai gunung yang tak mungkin kudaki.
Separah itu kah rasa sakit olehku.

Kamu tetap dengan gayamu.
Inikah sekadar sikap atau memang ini sifatmu.

Bertahan dengan keangkuhan atau sekedar sikap menghindar.

Tak menganggapku ada.

Seakan aku tak berarti.

Apa ada yang salah dengan caraku.

Bila Waktunya Berpisah

Unknown | Saturday, May 07, 2011 | 0 comments
Di bawah naungan langit biru dengan segala hiasannya yang indah.
Di atas hamparan bumi dengan segala lukisannya yang terbentang.
Masih kudapatkan dan kurasakan.
Curahan cinta yang tulus.
Yang kau berikan.
Tapi bila tiba waktu berpisah.
Pantaskah kumemohon diri.
Tanpa setetes syukur di samudera.

Di siang hari kulangkahkan kaki bersama ayunan langkah sahabatku.
Di malam hari kupejamkan mata bersama orang² yang kucintai.
Masih kudapatkan dan kurasakan.
Keramaian suasana dan ketenangan jiwa.
Tapi bila tiba waktu berpisah.
Akankah kupergi seorang diri.
Tanpa bayang-bayangmu yang akan menemani.

Ketika ku lalui jalan yang berdebu yang selalu mengotori tubuhku.
Ketika ku isi masa² yang ada dengan segala sesuatu yang tiada arti.
Masih bisa ku menghibur diri.
Tubuhku kan bersih dan esok kan lebih baik.
Tanpa sebersit keraguan.
Tapi bila tiba waktu berpisah.
Masih adakah kesempatan bagiku.
Tuk membersihkan jiwa dan hatiku yang selalu di penuhi dosa.

Setiap kegagalan yang membawa kekecewaan.
Setiap kenyataan yang menghadirkan penyesalan.
Masih kudengar dan kurasakan.
Suara² yang menghibur.
Tuk menghapus setiap kecewa dan sesal.
Tapi bila tiba waktu berpisah.
Adakah yang akan menghiburku.
Akankah aku pergi tanpa kekecewaan, dan penyesalan.
Akankah kau pergi tanpa memberikan maaf bagiku.

Aku Pergi Cinta

Unknown | Friday, May 06, 2011 | 0 comments
Aku menangis dalam riangnya bersamamu.
Aku gelisah berdampingan bergandeng tangan bersamamu.
Aku sepi bercanda bersenda gurau dengan celotehmu.
Dan aku muak denga segala kepalsuanku.

Kau ciptakan amarah terpendam dihatiku.
Sebab cinta tulus benci kusimpan.
Dan kau sia-siakan waktu bersamaku.

Adakah guna kasih kuberi.
Mungkinkah cinta masih untukku.
Sampai kapan rindu tak terbalaskan.

Aku tak ingin menangis.
Aku tak ingin gelisah.
Aku hendak lepaskan sepiku.

Jika sendiriku dapat membebaskan rasaku.
Aku ingin pergi jauh.
Dimana tak dapat kau temui.
Sebab bila kau meratap.
Aku ragu menjauh.

Jika aku dapat lepas dari belenggu cinta palsu.
Aku ingin terbang tinggi.
Dimana aku dapat bersembunyi dibalik awan putih.
Agar kau tak memohon.
Memintaku ntuk kembali merajut kasih.

Taukah kamu aku lelah.
Memberimu kesempatan berulang.
Dan kau pun ingkari berkali-kali.

Matikah rasamu.
Padahal aku telah bertahan.
Atas cinta suciku.
Namun kau runtuhkan.

Dan kini amarahku meledak.
Rasaku pun hilang.
Letihku telah diujung.

Selamat tinggal cinta.
Ku tak ingin kau lara.
Tapi aku juga tak ingin.
Selalu kecewa.

Tentang Kita

Unknown | Saturday, April 30, 2011 | 0 comments
Kalau tidak ada lagi kamu di hari depanku.
Ini bukan salahmu.
Aku sudah memilih.
Jauh sebelum kamu menerka.
Aku sudah menentukan.
Jauh sebelum kamu merencanakan.
Aku sudah memutuskan.
Jauh sebelum kamu meminta.

Kalau tidak ada lagi kamu di waktu depanku.
Ini bukan salahku.
Kamu sudah berusaha.
Jauh sebelum aku mencegah.
Kamu sudah bersikap.
Jauh sebelum aku mengubah.
Kamu sudah ber-angan.
Jauh sebelum aku menolak.

Kalau tidak ada lagi kita di masa depan.
Ini bukan salah kita.
Kita sudah saling menyayangi.
Meski akhirnya menjadi sangat disayangkan.
Kita sudah saling mengerti.
Meski akhirnya menjadi tidak dimengerti.
Kita sudah saling percaya.
Meski akhirnya menjadi tidak bisa dipercaya.

Kalau masa depan yang terjadi tidak seperti bayangan di masa lalu.
Ini bukan salah masa lalu.
Kalau wanita yang bersamaku saat membentang janur kuning bukan kamu.
Ini pun bukan salahnya.
Dan kalau di masa depan hanya ada aku dan kamu.
Ini bukan tentang kesalahan.
Ini hanya tentang perasaan.

Di Ujung Kata²

Unknown | Monday, April 04, 2011 | 0 comments
Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku. 
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api. 
Menyusuri jalanan sepi. 
Bersimbah angan tanpa tujuan.

Dalam derap gerimis yang menghujam. 
Terbuai bayangmu yang menyusup bertubi-tubi. 
Membawa sebaris kata bahagia yang menenggelamkan nurani. 
Di atas pengharapan tak berkesudahan

Tentang rindu kusam.
Tentang cinta terbuang. 
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah. 
Gundah gelisah, air mata, dan juga lara.

Masihkah ada sedikit senyum darimu. 
Di batas penantianku yang kini makin terbata. 
Jika masih ada ruang di hatimu untukku. 
Tolong bicaralah. 
Pada tanah membentang. 
Pada pohon-pohon rindang. 
Dan angin yang mengusik keangkuhan. 

Setidaknya biar ada tanda yang bisa kubaca dan kuraba. 
Janganlah sepi yang hadir. 
Janganlah semu yang membeku. 
Karena aku selalu berjalan menujumu.

Andai Esok Aku Tiada

Unknown | Monday, March 14, 2011 | 0 comments
Andai esok aku tiada lagi.
Kepergianku janganlah ditangisi.
Kepulanganku menyahut seruan Ilahi.
Relakan kupergi dengan setulusnya hati. 


Andai esok aku tiada lagi.
Seperti yang selalu menemanimu di sisi.
Usahlah bersedih sendu dan menyendiri.
Simpanlah kenangan disudut memori.

Andai esok aku tiada lagi.
Bersama cintamu kubawa pergi.
Bersama kasihmu setia menemani.
Usahlah disesali suratan dari Ilahi. 


Andai esok aku tiada lagi.
Ketahuilah kau tetap kusayangi.
Usahlah diratapi kehilangan ini.
Kurelakan kau tuk mencari pengganti.

Andai esok aku tiada lagi.
Limpahi daku ketulusan doa suci.
Iringilah daku di perkuburan sepi.
Biarlah tenang jasadku bersemadi. 


Tanpa rintihanmu yang kusayangi.
Tanpa setitis airmata membasahi bumi.
Muga di sana bertemu kedamaian abadi.
Di sisi Tuhan Yang Maha Mengasihi.

Andainya esok aku tiada lagi.
Puisi kutinggalkan sebagai penganti.
Menemani laramu dikala sepi.
Di situlah rahsia cintaku tersembunyi. 


Abadi kasihku untukmu yang kusayangi.

Andai esok aku tiada lagi.

Puisi Cinta Anak Fisika

Unknown | Saturday, January 15, 2011 | 0 comments
Archimedes dan Newton tak akan mengerti.
Medan magnet yang berinduksi di antara kita.
Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2.
Tak sebanding dengan momen cintaku.

Pertama kali bayangmu jatuh tepat di Fokus hatiku.
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa Maximum.
Bagai tetes minyak Milikan jatuh di ruang hampa.
Cintaku lebih besar dari bilangan Avogadro.

Walau jarak kita bagai Matahari dan Pluto.
Saat Aphelium Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku.
Seindah gerak Harmonik sempurna tanpa Gaya pemulih.
Bagai kopel Gaya dengan kecepatan Angular yang tak terbatas.

Energi Mekanik cintaku tak terbendung oleh Friksi.
Energi Potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan Gaya.
Energi Kinetik cintaku = -mv~.
Bahkan hukum kekekalan Energi tak dapat menandingi hukum kekekalan di antara kita.

Lihat hukum cinta kita.
Momen cintaku tegak lurus dengan Momen cintamu.
Menjadikan cinta kita sebagai titik Ekuilibrium yang sempurna.
Dengan Inersia tak terhingga.
Takkan tergoyahkan Impuls atau Momentum Gaya.
Inilah Resultan Momentum cinta kita.

Puisi Cinta Seorang Hacker

Unknown | Thursday, January 13, 2011 | 2comments
Andainya hatimu adalah sebuah System.
Akan ku Scan kamu untuk mengetahui Port mana yang terbuka.
Sehingga tidak ada keraguan saat aku c:\> nc -l -o -v -e ke hatimu.
Tapi, aku hanya berani Ping di belakang Anonymous Proxy.

Andainya hatimu adalah sebuah System.
Ingin rasanya aku manfaatkan Vulnerabilitiesmu.
Kan kupakai PHP Injection dan aku ls -la; find / -perm 777 -type d.
Sehingga aku tau kalau di hatimu ada Folder yang bisa ku tulis.
Atau, adakah Free Space buatku.
Apa aku harus pasang Backdoor "Remote Connect-Back Shell".
Jadi aku tinggal menunggu koneksi darimu.

Andainya hatimu adalah sebuah system.
Saat semua Request-ku diterima, aku akan nongkrong terus di Bugtraq.
Untuk mengetahui Bug terbarumu.
Maka aku akan Patch & Patch terus.
Aku akan jaga Service-mu jangan sampai Crash.
Aku akan menjadi firewallmu, akan ku pasang Portsentry.
Dan menyeting Error Page-mu "The Page Cannot Be Found, Because Has Been Owned By Someone Get out".
Aku janji tidak bakalan ada Malicious Program atau Service yang Hidden.
Karena aku sangat mencintaimu.

Andainya hatimu adalah sebuah System.
Jangan ada kata "You Dont Have Permission To Access It" untukku kalau tidak mau di Ping Flood Atau DDos Attack.
Kamu harus menjadi sang Bidadari pujaanku.

Seandainya hatimu adalah sebuah System.
Tapi sayang, hatimu bukanlah sebuah System.
Kau adalah sang pujaanku, yang telah mengacaukan System-ku.
Hatiku sudah ter-Infeksi Virus yang menghanyutkan.
Tidak ada anti virus yang dapat menangkalnya.
Selain Dirimu.

Kembang Kertas

Unknown | Sunday, December 26, 2010 | 0 comments
Kembang kertas untukmu akan abadi.
Biarpun ia terbang bebas.
Dengan batas yang tak berbekas.
Mengukur waktu dalam lautan syahdu.
Melewati sampai pagi menjelang.

Lalu kau kumpulkan waktu, hingga menyatu.
Tanpa goresan luka hari-hari berlalu.
Bersama harapan yang tetap setia untuk menunggu.
Dan lompatan-lompatan hari yang pasti berakhir.

Pernahkah kau bertemu makna hidup.
Di antara bulir-bulir hari yang silih berganti.
Di dinding kamar atau di meja kerja.
Adakah kau lihat, betapa hidup adalah perputaran waktu.
Sampai akhir menjemput.

Di batas detak usia yang pasti berakhir.
Bentangkanlah cita-cita dan harapan di jagad masa depan.
Karena hidup penuh misteri.
Tak terungkap di bumi yang penuh fatamorgana.

Akhir Tanpa Penghabisan

Unknown | Tuesday, December 21, 2010 | 0 comments
Inilah akhirny. 
Aku mengakhiri jejak yang baru kutapaki.
Bukan salahmu.
Ini semua hanya karena aku.
Yang tak mampu menyemai benih rindu di ladangmu.
Apa dayaku jika cintaku tak lagi hadir untukmu.

Sia-sia kucoba membangun cinta ini.
Sementara di atas segalanya.
Aku terus mengasah kesedihan penantian.
Maafkan untuk satu pilihan yang pahit ini.
Tapi setidaknya, lebih baik semua terbuka sedari awal.
Sebelum kebohongan terkuak di penghabisan.
Aku memilih pergi karena tak mau menyakitimu.
Aku memilih mencintai satu nama meski hanya semu.

 
Support : Sqoatydhent™
Copyright © Sqo Sqoaty Dhent - All Rights Reserved
Template Modify By : Sqoatydhent™
Powered By : Blogger